Wednesday, May 14, 2008

mewarnai warna

jika ada warna, hidup akan lebih cerah dan menyenangkan dan ceria.
lagi-lagi itu kata orang.
tapi bagaimana kalau warna itu kehilangan warnanya?
dia akan jadi apa?
eksistensinya menjadi warna jadi hilang karena ia kehilangan dirinya.
kasian ya.

pertanyaan yang sebenarnya adalah "apa itu warna?"
akankah si hitam bernama hitam jika ia menjadi aga sedikit keabu-abuan. mungkin namanya menjadi abu-abu?
mudah sekali merubah identitas si warna. bagaimana kalau ia tidak mau?
repot juga ya.

jadi kapan kita bisa mewarnai warna dan tidak menghilangkan identitasnya sebagai warna itu sendiri?
pertanyaan tidak pernah habis sepertinya.

Friday, May 09, 2008

kemenangan

menjadi pemenang adalah impian semua orang. apalagi untuk para makhluk ambisius, menang bukan pilihan tetapi sebuah keharusan. yah, bukan orang ambisius namanya kalau mau kalah.
menjadi pemenang memang selalu menjadi mimpi orang. sudah terbukti dengan jelas, walaupun tanpa metode kuantitatis dengan survey, masyarakat mencintai pemenang. mereka ingin berada di dekat sang pemenang dan menjauhi si kalah.
sedangkan sang "kalah" akan merasa tidak puas karena telah mengecewakan teman-teman dan apalagi keluarganya. "nak..ibu bangga sama kamu walaupun kamu tidak menang(dengan muka yang dibuat2 sedih)..", kata ibu. yah..mudah-mudahan ibu-ibu kita ini memang tulus mengatakannya.

pada saat kita mencapai satu puncak paling tinggi, kita puas. lalu apa lagi? mencari gunung baru. mendaki tebing-tebing yang lebih curam dan ketinggian gunung yang semakin menggerikan. peralatan lebih canggih dan tentunya semangat dan kepala yang diangkat setinggi-tingginya sampai bisa-bisa pegal. lalu setelah bisa mendakinya, apa lagi? cari lagi. mengulangi semua proses yang melelahkan itu untuk menjadi yang terbaik. kalau ditulis lagi..wah..kasian si penulis. capek. cuma itu-itu saja yang diulang-ulang.

sedangkan, tidak pernah mencapai puncak, membuat kesal dan penasaran. "kok bisa ya, gw ga bisa?". nah.. itu dia mental yang benar bagi seorang yang kalah. memang, ada dua kemungkinan reaksi dari sang kalah ini, satu : ngambek dan merasa tidak nyaman dengan diri, kedua : tetap semangat. tetap semangat ini yang membuat orang tetap hidup. hidup dalam pengharapan merupakan tiang dari kehidupan individu.

sayangnya, ini yang tidak dimiliki oleh sebagian orang. bahwa menjadi kalah atau mengalah berarti memberikan kesempatan pada diri sendiri untuk berjalan lebih jauh lagi, menyelami diri lebih dalam agar bisa kenal betul siapa diri. kalah juga memberikan izin kepada orang lain untuk mencapai, yang mungkin menjadi, satu-satunya alasan dia hidup. kasihan bukan kalau dia bunuh diri hanya karena ia kalah?

jadi, sekarang kita bisa bilang bahwa menang dan kalah adalah pilihan.

saya kira, pada akhirnya, kita akan kalah dengan kehidupan.

bukan begitu?

Sunday, May 04, 2008

ada kupu-kupu di kamarku

ada kupu-kupu di kamarku
tertanggal setitik pikiran di sisi hati
bukan harapan
bukan juga kerinduan
tapi sebuah rintihan kesakitan dari dalam

sakit sama dengan bahagia
tanpa sakit, tidak ada bahagia,
itu kata orang.
tapi kalo ia ingin berteriak
tidak ada yang mendengar sakit itu
apa bisa bahagia jika begitu?

kesepian tidak selalu gelap
tidak juga selalu sedih
sepi bisa jadi rintihan kebahagiaan yang terlelap

kupu-kupu di kamarku terdiam
tidak bergerak
dan tidak berpindah
aku mau di sana. terus. terus. dan terus.
supaya rintihan ini tidak pergi.

Sunday, March 02, 2008

tepian dan tepi

Seperti kata Kant, manusia pasti punya dua sisi yang berlainan. Ingin menyendiri namun berusaha juga memenuhi kebutuhannya dengan bersosial. Ingin kedamaian tapi juga menginginkan segala sesuatu untuk diri sendiri. Terdengar seperti tidak koheren namun terjadi dan hal ini saya lihat setiap hari.
Melihat ayah yang selalu bersama dengan orang lain dan memerlukan mereka dalam menjelaskan dirinya. Namun di satu sisi, ia sangat ingin menjadi terbaik diantara mereka dan menjadi pemimpin. Melihat ibu yang sangat privat, dengan kata lain, sangat susah diraih oleh orang namun juga memerlukan orang lain dalam menentukan dirinya.
Melihat kakak perempuan yang selalu menjadi korban dari setiap kehidupannya. Sedangkan melihat diri sendiri yang terlihat ceria setiap saat dan ramah. Kenyataanya, saya depresi mengetahui setiap hari akan ada orang-orang disekitar yang akan mendeskripsikan saya sebagai sebuah "karakter".
Ada saatnya saya ke tepian. Sepertinya, ada yang tidak mengerti.
Atau mungkin kesepian? Mungkin perlu ke tepian untuk tidak menjadi kesepian.